Minggu, 11 Januari 2009

PEMEROLEHAN SINTAKSIS PADA

ANAK USIA 2 TAHUN

Fahrurrozi

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemerolehan sintaksis pada anak usia 2 tahun terutama dalam pemerolehan kalimat deklaratif, imperatif, dan introgratif. Penelitian dilakukan pada seorang anak yang bernama Cintia Dewi putri pasangan M. Igbal dan Nurhayati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemerolehan kalimat deklaratif, kalimat imperatif dan introgratif pada Tia cenderung mengalami kemajuan yang luar biasa. Ini dibuktikan dengan penguasaan lebih dari dua, tiga, bahkan empat kata dalam waktu hanya satu bulan.

Kata kunci : pemerolehan, sintaksis, anak 2 tahun, deklaratif, imperatif, dan introgratif.

I. PENDAHULUAN

Pemerolehan bahasa seorang anak berkaitan erat dengan keuniversalan bahasa. Artinya keterkaitan ini menjurus kepada adanya elemen-elemen bahasa yang urutan pemerolehannya bersifat universal absolut, ada yang universal statistikal, dan ada pula yang universal implikasional.

Apabila dilihat dari keuniversalan absolut, pemerolehan bahasa anak dimulai dari beberapa tahap. Menurut Tarigan,tahapan ini terdiri dari: tahap meraban (pralinguistik) pertama. Pada tahap meraban pertama, selama bulan-bulan awal kehidupan, bayi-bayi menangis, mendekut, mendeguk, menjerit, dan tertawa. Tahap berikutnya, tahap meraban (pralinguistik) kedua, Tahap ini disebut juga tahap kata omong-kosong, tahap kata tanpa makna. Awal tahap ini biasanya pada permulaan pertengahan kedua tahun pertama kehidupan. Tahap I : Tahap holofrastik (tahap linguistik pertama). Ini adalah tahap satu kata, yang mulai disekitar usia satu tahun. Tahap II : Ucapan-ucapan dua kata. Tahap linguistik kedua ini biasanya mulai menjelang hari ulang tahun kedua. Tahap III : Pengembangan tata bahasa. Tahap ini pada usia 2 tahun. Tahap IV : Tata bahasa menjelang dewasa, tahap ini anak-anak mulai dengan struktur-struktur tata bahasa yang lebih rumit; banyak di antaranya yang melibatkan gabungan kalimat-kalimat sederhana dengan komplementasi, relativisasi dan kongjungsi. Tahap ini dimulai sejak umur 2 sampai 3 tahun.(Tarigan, 1985:267)

Jika dilihat dari, keuniversalan statistikal maka pemerolehan bahasa anak dimulai dari anak itu dilahirkan kedua sampai dengan usia 2 tahun. Dardjowidjojo (2000:21) mengatakan bahwa pada masa statistikal inilah seorang anak mampu memperoleh bahasa sesuai dengan tingkat umurnya. Jika dilhat dari keuniversalan implikasional, seorang anak setelah memperoleh bahasa kemudian mengaplikasikannya melalui media bunyi. Apabila anak baru dilahirkan maka media yang biasa digunakannya untuk mengungkapkan kata-kata adalah berupa tangisan, mendekut, menjerit, bahkan tertawa. Jika anak telah berusia satu tahun ke atas, anak sudah mampu mengucapkan satu kata walaupun kata tersebut kurang begitu dimengerti oleh orang tua. Barulah pada usia dua tahun ke atas, anak sudah mulai mampu untuk mengucapkan beberapa kata yang membentuk kalimat yang dapat dimengerti orang dewasa.

Berdasarkan uraian di atas, terdapat permasalahan penelitian ini tertuju kepada pemerolehan sintaksis pada anak usia dua tahun Secara lebih khusus difokuskan pada pemerolehan kalimat bentuk interogratif, bentuk imperatif, dan bentuk deklaratif.. Permasalahan ini diangkat mengingat pada masa usia dua tahun perkembangan bahasa anak sangat cepat. Hal ini didasarkan kepada asumsi bahwa anak yang berusia dua tahun sudah mampu mengucapkan dua kata sekaligus, bahkan berselang dua bulan kemudian anak sudah mampu mengucapkan tiga, empat, sampai lima kata sekaligus dalam satu kalimat ujaran.

Psikolinguistik

Psikolinguistik sebagai suatu istilah ilmiah, lahir sejak tahun 1954, tahun penerbitan karya bersama Charles E. Osgood dan Thomas A. Sebeok, yang berjudul “Psicholinguistics, A Survey of Theory and Research Problems” di Bloomington.(Tarigan, 1985:2)

Robert Lado (1976:220) mengatakan bahwa psikolinguistik adalah pendekatan gabungan melalui psikologi dan linguistik bagi telaah atau studi pengetahuan bahasa, bahasa dalam pemakaian, perubahan bahasa, dan hal-hal yang ada kaitannya dengan itu yang tidak begitu mudah dicapai atau didekati melalui salah satu dari kedua ilmu tersebut secara terpisah atau sendiri-sendiri.

Selanjutnya Emmon Bach (1964:64) dengan singkat dan tegas menguitarakan bahwa psikolinguistik adalah suatu ilmu yang meneliti bagaimana sebenarnya para pembicara/pemakai sesuatu bahasa membentuk/membangun atau mengerti kalimat-kalimat bahasa tersebut. Lebih lanjut dikatakan Langacker (1958:5) psikolinguistik adalah studi atau telaah mengenai behavior atau perilaku linguistik yaitu formansi atau perbuatan dan perlengkapan atau aparat psikologis yang bertanggung jawab atasnya.

B. Keuniversalan Bahasa

Jika berbicara makna bahasa, maka akan terlintas dibenak wujud atau jenis bahasa yang ada di sekeliling maupun yang ada di dunia ini. Pada prinsipnya bahasa pastilah dimiliki/dikuasai oleh setiap manusia. Dengan bahasa, manusia dapat berkomunikasi dan beritegrasi dengan lingkungannya. Namun, penggunaan bahasa harus disesuai dengan tempat dimana bahasa itu digunakan.Hal seperti inilah yang disebut dengan keuniversalan bahasa.

Dalam hal ini Dardjowidjojo (2000:21) mengatakan bahwa Greenberg yang dapat dikatakan sebagai pelopor pertama dalam bidang ini bertitik tolak dari penelitian terhadap banyak bahasa dan dari bahasa-bahasa ini dia simpulkan secara induktif ihwal-ihwal yang terdapat pada semua bahasa, sebagian yang lain pada banyak bahasa, sebagian yang lain lagi pada beberapa bahasa, dan seterusnya. Lepas dari itu semua, pada dasarnya bahasa itu sama yaitu sebagai alat penyampaian pesan dari seorang pembicara kepada lawan berbicara baik lisan maupun tertulis.

C. Pemerolehan Bahasa

Berbicara mengenai pemerolehan bahasa, maka kita tidak dapat melepaskan diri dari perlengkapan pemerolehan bahasa atau acquisition device, yang merupakan suatu perlengapan hipotesis yang berdasarkan suatu input dta linguistik primer dari suatu bahasa, menghasilkan suatu output yang terdiri atas suatu tata bahasa adekuat secara deskriptif buat bahasa tersebut.(Tarigan, 1985:243)

Yassin (1991:120) mengatakan bahwa Teori pemerolehan bahasa yang selama ini dipengaruhi oleh tiga aliran,yaitu : (1) aliran behaviorisme; (2) aliran nativisme; dan (3) aliran interaksionisme positif. Aliran behaviorisme mengatakan bahwa pemerolehan bahasa tidak terlepas dari teori belajar. Motor aliran behaviorisme ini adalah Skinner yangmembagi duamacam proses belajar mengajar yang masing-masing melibatkan tingkah laku (behavior) yang berbeda, yaitu tingkah laku responden (respondent behavior) dan tingkah laku operan (operant behavior). Aliran nativisme dengan Chomsky sebagai orang yangpertama kali mempelopori teori ini mengatakan bahwa pemerolehan bahasa itu di dapat sejak manusia dilahirkan atau yang lebih dikenal dengan hipotesis bawaan. Lebih jauh dikatakannya bahwa bawaan bahasa (language faculty) yang bersifat genetis suatu komponen dalam otak manusia, merupakan bentuk tertentu dari gramatika yang dapat ditelusuri secara “manusiawi”. Lain halnya dengan aliran interaksionisme kognitif yang digawangi oleh Piaget yang mengatakan bahwa perkembangan kognitif anak-anak merupakan hasil dari inernalisasi “pengorganisasian alat dan hasil” dari aktivitas sensorimotor yang dicapai pada tahap awal perkembangan.

Krashen (1989:8) mengatakan bahwa “acqusition is a subconscious process that is identical to the process used in the first language acquistion ini all important ways” Selanjutnya, Ingram (1989:64) mengatakan bahwa teori pemerolehan bahasa sebenarnya terdiri dari dua komponen, yaitu: pertama adalah seperangkat prinsip yang mengacu pada konstruksi grammar dan menggantinya dengan tata aturan pada waktu berikutnya. Kedua adalah komponen proses psikologi anak dalam belajar bahasa.

Pemerolehan sintaksis tidak dapat dengan mudah memaparkan secara rinci dan tepat serta berani apa yang persisnya terjadi pada diri anak dalam ia menguasai sintaksis suatu bahasa. Di samping, titik pandang serta aliran keilmuan yang berbeda-beda, masalah yang dihadapi memang bukan masalah yang banyak kaitannya dengan neurobiologi manusia seperti halnya pada komponen fonologi.

METODOLOGI

Sesuai dengan fokus dan tujuan yang telah disampaikan pada bagian pendahuluan penelitian ini menggunakan pendekatan naturalistik, metode kualitatif, karena dilakukan pada latar alamiah. Moleong mendefinisikan “metodologi kualitatif” sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis dari orang-orang dan perilaku yang diamati.

Subyek penelitian ini adalah bernama Chintia Dewi yang sehari-hari dipanggil “Tia”. Dia dilahirkan pada tanggal 23 Desember 2001 di Rumah Sakit Umum Pershabatan Jakarta Timur dari pasangan orang tua, M. Igbal dengan Nurhayati.

Ayah Tia, M. Igbal berasal dari Koto Tuo Bukit Tinggi dan sedangkan ibunya Nurhayati berasal dari Sragen Jawa Tengah. M. Igbal bekerja sebagai Pegawai Ngeri Sipil di Pemda DKI Jakarta sedangkan Nurhayati sebagai ibu rumah tangga. Dengan latar belakang adat, suku, bahasa yang berbeda, mereka dalam kehidupan sehari-hari menggunakan bahasa Indonesia dengan interferensi bahasa Betawi. Interferensi bahasa Betawi dalam penggunaan bahasa Indonesia ini dapat terjadi dikarenakan dilingkungan sekitar rumah mereka terdapat warga asli betawi dan masyarakat yang telah lama tinggal di Jakarta sehingga mau tidak mau mereka menggunakan bahasa indonesia dengan campuran bahasa Betawi.

Dalam kesehariannya Tia merupakan anak yang periang dan supel terhadap siapa saja baik anak-anak maupun orang dewasa. Dengan keperiangan dan kesupelan ini, Tia seringkali diajak berbincang oleh siapa saja. Sehingga tidak heran penguasaan kosa katanya sangat berkembang.

Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Peneliti terjun langsung mengamati tingkah laku sehari-hari Tia. Sebelum diadakan pengamatan, peneliti meminta izin kepada orang tua tia mengenai ihwal Tia dijadikan subyek penelitian. Artinya, pengumpulan data penelitian akan sangat bergantung kepada peneliti sebagai alat pengumpulan data.

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi dan partisipan, yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang pemerolehan sintaksis anak usia dua tahun. Peneliti melakukan pengamatan langsung pada saat proses pemerolehan sintaksis, yaitu perbincangan antara Tia dengan orangtuanya, saudaranya ataupun dengan lingkungannya.

Langkah-langkah yang dilakukan oleh peneliti dalam menganalisis data adalah

1. Mendeskripsikan data rekaman perbincangan antara Tia dengan orang tuanya, saudaranya, maupun lingkungannya.

2. Memilah-milah jenis kalimat yang telah diucapkan Tia dengan mengkategorikan kalimat yang berbentuk deklaratif, imperatif, dan introgatif

3. Mnginterpretasikan data yang telah didapat sesuai dengan permasalahan yang dianalisis.

4. Merumuskan dan menyimpulkan hasil analisis yang telah diperoleh.

Dalam pemeriksaan data digunakan teknik triangulasi data. Moleong mengatakan triangulasi dengan sumber dilakukan dengan membandingkan dan mencek balik derajat kepercayaan suatu informasi yakni membandingkan data hasil penelitian. Untuk pemeriksaan keabsahaan data ini, peneliti mengadakan triangluasi data dengan teman sejawat yang mengetahui proses pemerolehan bahasa anak usia 2 tahun.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Pemerolehan Kalimat Deklaratif

Ketika Tia akan tidur, baik itu tidur siang maupun tidur malam, seringkali orangtuanya lupa memberikan susu. Menurut ibunya apabila Tia mau tidur pasti ia akan minta susu. Jika ibunya ingat, maka ia langsung membuatkan susu, tetapi bila tidak ingat maka Tia biasanya yang meminta untuk dibuatkan susu. Pada suatu siang peneliti mengamati Tia, kebetulan sekali dia akan tidur siang. Ternyata ibunya lupa membuatkan susu, maka Tia langsung mengucapkan kalimat:

(a) Bu, num cucu bu! (Bu, minum susu, bu!)

Pada kesempatan yang lain, biasanya pagi hari, Tia sudah bangun dari tidur, dia minta untuk dihidupkan TV.Tia biasanya mengucapkan kalimat:

(b) Kak, idup ivi! (kakak, hidupkan tivi)

Tia paling suka dengan film kartun dan lagu anak-anak. Apabila sudah ada acara itu, Tia biasanya suka berlama-lama di depan TV. Pada suatu kesempatan, saat asyik menonton film kartun, tiba-tiba kakaknya memindahkan channel ke acara yang lain. Serta merta Tia langsung mengucapkan kalimat sebagai berikut:

(c) lem adi aja! Lem adi aja! (film tadi saja!)

2. Kalimat Imperatif

Apabila dilihat dari kalimat yang diproduksi Tia, terlihat bahwa kalimatnya sudah cukup lengkap dari segi pola strukturnya. Namun, dalam kesempurnaan bunyi masih kurang sempurna. Hal ini dimaklumi, mengingat pada usia dua tahun sistem artikulasi anak-anak masih belum sempurna. Untuk melihat kalimat imperatif yang diucapkan Tia berikut ini akan dideskripsikan kalimat tersebut.

(a) Ucing acuk umah Ia (Kucing masuk rumah Tia)

(b) Bang, li emen (Bang, beli permen)

(c) Ulang yuk bu (Ayo kita pula bu)

(d) Ia au mam bu (Tia mau makan bu)

3. Kalimat Interogatif

Kalimat interogatif biasanya diucapkan Tia apabila di sedang menonton TV. Kalimat ini biasanya diproduksi oleh Tia apabila dilihatnya ada yang aneh pada acara TV tersebut. Hal ini tidak terfokus kepada acara film atau musik anak-anak saja, lebih jauh sering ditanyakan hal-hal lain yang ada di acara yang bukan kosumsi dirinya. Biasanya kalimat yang diucapkannya, yaitu:

(a) Pa tu pa? (Apa itu pa?)

(b) Antu itu ya bu? (Hantu itu ya bu?)

Pernah suatu sore Tia bersama Bapak dan Ibunya duduk-duduk diberanda rumah, tiba-tiba secara spontan Tia bertanya kepada Bapaknya:

(c) Pa idak eja agi ya? (papa tidak kerja lagi ya?

B. Pembahasan

Berdasarkan deskripsi data di atas,jika dilihat dari pemerolehan kalimat deklaratif, terlihat kalimat-kalimat yang diucapkan masih terpotong-potong dan ucapannyapun masih belum sempurna. Namun secara gramatikal, kalimat-kalimat tersebut sudah dapat digolongkan dalam bentuk kalimat lengkap. Hal ini ditandai dengan lengkapnya pola kalimat seperti subyek + predikat + obyek. Hal ini terlihat pada kalimat /Bu, num cucu bu! (Bu, minum susu, bu!)/ kalimat ini jika dilihat secara gramatikal dapat dimengerti dengan melihat rangkaian kalimat perintah atau kalimat sebelumnya. Begitu juga pada kalimat / lem adi aja! Lem adi aja! (film tadi saja!)/.

Apabila diperhatikan kalimat-kalimat imperatif yang diucapkan Tia, maka kalimat imperatif sudah mempunyai makna lengkap. Seperti ungkapan sebelumnya, ucapan-ucapan fonem masih belum sempurna sedangkan logika kalimat imperatifnya kadang-kadang belum berurutan sesuai dengan kaidah-kaidah imperatif. Walaupun demikian, dari susunan kalimatnya, sudah dapat dikatakan bahwa dalam percakapan atau dalam situasi tertentu, kalimat seperti itu lazim apalagi dalam ragam tidak formal khususnya dalam pemerolehan bahasa anak.

Dari kalimat interogatif di atas, terlihat bahwa pemerolehan dan produksi kalimat Tia sudah nampak dapat diucapkan tanpa berpikir. Hal ini menunjukkan bahwa kalimat semacam itu sudah diperolehnya dan dengan mudah diproduksinya.

Kesimpulan dan Implikasi

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis di atas dapat disimpulkan bahwa:

  1. Pada usia 2 tahun, Tia sudah dapat mengucapkan dua kata, tiga, bahkan sampai lima sekaligus. Patut untuk diperhatikan ternyata kemampuan memperoleh kata-kata baru Tia sangat mengagumkan. Ini terlihat dengan kemampuannya menanyakan kalimat yang tidak terpikirkan sebelumnya oleh orang dewasa/orang tua.
  2. Pada usia ini, kata-kata yang diproduksi adalah masih terpotong-potong dan lengkap. Artinya, kalimat yang diucapkan Tia hanya berupa kata-kata yang sepenggal saja. Namun sebagai orang tua/dewasa, kita sudah mengetahui maksud dari kata-kata tersebut. Lengkap yang dimaksud disini adalah kalimat-kalimat itu jika dilihat dari struktur/pola kalimatnya sudah lengkap yang terdiri dari subyek + predikat.

B. Implikasi

Berdasarkan hasil analisis data dan kesimpulan di atas dapat ditarik implikasi sebagai berikut:

Proses penyerapan bahasa pada anak dapat terjadi melalui pemerolehan bahasa. Pemerolehan ini dapat terjadi melalui interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Pemerolehan bahasa pada anak dapat terjadi secara alamiah. Anak memperoleh bahasa setelah dia mendengar apa yang diucapkan oleh orang tuanya.

Salah satu cara yang dilakukan oleh orang tua untuk meningkatkan penguasaan kosa kata pada anak usia 1-3 tahun adalah dengan menerapkan teori prototipe seperti yang dikembangkan oleh Eleanor Rocch dalam Ingram. Teori prototipe mengusulkanbahwa fitur-fitur yang diberikan pada satu kata adalah fitur yang paling dekat dengan benda tersebut.Misalnya kata /bola/, fitur terdekatnya adalah benda yang dilemparkan dan digunakan untuk bermain bukan untuk yang lain. Untuk itu, teori ini mengatakan ada dua cara untuk mengembangkan kemampuan pemerolehan bahasa pada anak, yaitu:

  1. Kategori umum ke khusus (general to spesific categories), Misalnya; kata /bola/, secara umum anak mengenal bola merupakan benda bulat kemudian secara bertahap menyempit. Bola adalah benda bulat untuk dilemparkan.
  2. Kategori khusus umum, (spesific to general categories). Misalnya, pada awalnya anak mengenal /bola/ yang berwarna biru. Semua benda bulat yang berwarna bru disebut bola. Kemudia secara bertaha anak dapat mengenal bahwa bola ada juga yang berwarna bukan biru.

DAFTAR PUSTAKA

Aitchison, Jean, The Seeds of Speech: Language Origion and Evolution, Cambridge: Cambridge University Press, 1996.

Bach, Emmon, An Introduction to Transformational Grammars, New York : Holt, Rinehart an Winston, 1964.

comrie, Bernard, Language Universal and Linguistics Typology, Oxford: Basil Blackwell Ltd.,1989.

Dardjowidjojo, Soenjono, ECHA : Pemerolehan Bahasa Anak Indonesia, Jakarta : Gramedia, 2000.

Ingram, David, First Language Acquisition Method, description, and Explanation, Cambridge: Cambridge University Press, 1989.

Krashen, Stephen D., Language Acquisition and language Education, Extension and Application, Prentice Hall International, BPCC Wheatons Ltd. Exeter, 1989.

lado, Robert Language Teaching Bombay, New delhi: Tata Mc Graw-Hill, 1976.

Langacker, Ronald W., Language and Its Structure, Some Fundamental Conpepts, New York : Harcourt, Brace and World, 1968.

Moleong, Lexy J. Penelitian Kualitatif, Bandung : Remaja Rosdakarya, 1989.

Tarigan, Henry Guntur, Psikolinguistik, Bandung : Angkasa, 1985.

Yassin, Anas, Gramatika Komunikatif : Sebuah Model, Disertasi Malang : PPs IKI PMalang, 1991.

1 komentar:

Melfa Yantri mengatakan...

terimakasih postingnya pak, sangat membantu saya dalam memahami pemerolehan sintaksis pada anak uasia 2 tahun.